Minggu, 20 November 2011

Makalah Sejarah Tuntang


KATA PENGANTAR

          Dengan mengucapkan puja dan puji syukur  kehadirat Tuhan YME,penulis dapat menyelesaikan tulisan ini mengenai ASAL USUL TUNTANG, bahwasannya setiap tempat memiliki sejarahnya sendiri sendiri,begitu pula mengenai Asal Usul Tuntang yang merupakan daerah yang terletak di perbatasan antara kabupaten Semarang dan kota Salatiga   Adapun pertimbangan dalam penulisan Asal Usul Tuntang sebagai berikut:
1.      Melatih berfikir secara kritis ,rasional,dan kreatif
2.      Mengetahui asal usul Tuntang
3.      Meningkatkan partisipasi warga negara secara aktif untuk memahami segala sesuatu secara menyeluruh
4.      Mengembangkan prinsip pembelajaran suatu wilayah
      Penulis juga ingin mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan karya tulis ini. Untuk orang tua penulis yang telah memebantu penulis baik dalam hal spiritual maupun material. Bagi teman-teman yang telah memeberi banyak inspirasi.Bagi para pembaca yang budiman yang telah berbaik harti untuk memebaca karya tulis ini.
       Penulis menyadari bahwa karya tulis ini masih jauh dari kata sempurna. Untuk itu penulis menerima dengan lapang dada segala kritik dan saran dari para pembaca, sebagai catatan kami untuk dapat menghasilkan karya - karya yang lebih baik.


                                                                              Salatiga, November 2011


Penulis




BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang        
            Latar belakang kelompok kami dalam memilih lokasi di Tuntang adalah karena lokasi Tuntang merupakan lokasi yang cocok untuk dijadikan objek penelitian. Kami memilih lokasi penelitian di Tuntang karena tempat tersebut merupakan tempat yang dekat dengan kota Salatiga dan merupakan daerah tempat tinggal salah seorang teman kami. Sehingga kami dapat lebih mudah dalam mencari informasi baik secara wawancara ataupun secara studi pustaka. Kelompok kami menilai bahwa lokasi Tuntang merupakan lokasi yang paling tepat jika dibandingkan dengan lokasi yang lainnya. Hal ini dikarenakan asal-usul atau sejarah terciptanya daerah Tuntang yang menarik dan bisa dijadikan sebagai media pembelajaran khususnya pada pelajaran sejarah. Kita juga dapat mengetahui sejarah-sejarah daerah-daerah di sekitar kota Salatiga sehingga dapat memperluas wawasan kita tentang sejarah maupun asal muasal berbagai daerah yang ada di sekitar kota Salatiga. Kita juga bisa mengetahui tempat-tempat bersejarah di daerah Salatiga seperti benteng, sungai, atau prasasti. Selain itu kita juga bisa mengetahui berbagai cerita-cerita yang ada dan berkaitan dengan proses terjadinya suatu tempat seperti mitos, legenda, dan dongeng.

B.     Motto
·         Hidup adalah sebuah perjuangan meraih cita dan harapan.
·         Kegagalan adalah awal dari keberhasilan.
·         Tidak ada hidup yang sesuai dengan apa yang kita inginkan, tapi segala yang kita inginkan sudah di siapkan Tuhan dalam hidup ini.
·         Eeverything should be made as simple as possible but not simple.
·         Habis gelap terbitlah terang.
·         Saat jiwa terasa hampa kembalilah pada Sang Penguasa.
·         Hadapi hidup dengan senyuman, dan awali senyuman dengan do’a.

C.    Perumusan Masalah
Atas dasar penentuan latar belakang dan identiikasi masalah diatas, maka kami dapat menarik beberapa masalah sebagai berikut:
1.      Untuk apa karya tulis di buat?
2.      Apa manfaat yang dapat diperoleh berkaitan dengan sikap seseorang dalam kehidupan sehari-hari?
3.      Siapa yang akan lebih bekerja keras dengan adanya tugas karya tulis ini?
4.      Bagaimana kita dapat lebih mencintai sejarah yang berhubungan dengan karya tulis ini?
5.      Mengapakarya tulis ini dapat menambah pengetahuan?


D.    Tujuan Karya Tulis
Adapun tujuan dari karya tulis ini adalah sebagai berikut:
1.      Mengetahui sejarah atau asal-usul suatu daerah, yaitu Tuntang
2.      Mengetahui serta mempelajari tata krama atau kelakuan baik orang-orang Tuntang di masa lalu
3.      Mendorong kerja keras siswa dalam melakukan kegiatan yang menjadi sebuah tugas yang harus dikerjakan
4.      Meningkatkan motivasi siswa untuk senantiasa mencintai pelajaran sejarah
5.      Menambah pengetahuan dengan mengetahui seluruh isi karya tulis dan senantiasa membacanya

BAB II
SEJARAH TUNTANG
Hasil Wawancara
Asal-usul nama Tuntang, tuntang itu memiliki sebuah sungai yang mengalir dari arah Banyubiru, Ambarawa sampai ke Demak. Sungai itu mendapatkan air atau sumber mata air daibeberapa gunung atau bukit yang berada di Ambarawa dan sekitarnya. Oleh Belanda air itu dibendung dan digunakan sebagai aliran listrik yang sekarang bersentral di Njelog. Dahulunya sungai itu dikelilingi oleh lereng-lereng dan juga hutan. Maka apabila ada suara secara otomatis akan menimbulkan bunyi pantul. Oleh karena kebiasaan masyarakat setempat di waktu dhuhur, ashar, maghrib, isya’ dan subuh kerap membunyikan kentongan yang berbunyi, ”tung…tung…tung” akibatnya suara itu menggema dan menghasilkan bunyi pantul, “tang…tang…tang”.
Maka kyai putih meninggalkan sebuah pesan, kelak apabila daerah ini terdapat keramaian serta kemakmuran, tepat ini akan kuberi nama, “TUNTANG”, yang berasala dari sebuah pantulan bunyi kentongan. “TUNG….TANG…”. Kyai putih adalah seorang pengawal atau pengikut pabgeran Benowo dan pembawa ajaran islam di daerah Tuntang. Sedangkan pangeran Benowo adalah anak dari Hadi Wijoyo (Jaka Tingkir) yang suka mengembara.
Dari air yang dibendung oleh Belanda. Debit air tersebut terus menerus mengalami suatu kenaikan. Hingga pada tahun 1935 pemerintah Belandamenumoahkan air tersebut ke sebuah desa yang terletak lebih rendah dari bendungan itu. Sebelumnya masyarakat setempat telah diminta untuk mengosongkan desa itu. Setelah itu air menenggelamkan desa itu, terbentuklah sebuah rawa yang diberi nama “Rawa Pening”. (Mbah Muhton)


Sumber Internet
Para sedulur yang pernah melewati jalur darat Semarang-Solo, dapat dipastikan melewati Tuntang di sekitar Rawa Pening di perbatasan Ambarawa-Salatiga. Tuntang, merupakan salah satu saksi sejarah perkereta-apian di Indonesia. Ada sebuah stasiun tua peninggalan “Naamlooze Venootschap Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij” (NV. NISM) dari jaman pemerintahan Hindia Belanda, yang sekarang sudah tidak berfungsi lagi. Stasiun kecil itu terletak di jalur kereta api tua dari Kedungjati-Bringin-Tuntang-Ambarawa-Jambu-Bedono. Sebelumnya, jalur itu tersambung dengan jalur Semarang-Solo via Gundih yang sampai sekarang masih berfungsi, dan sesudahnya terhubung dengan jalur tua ke Magelang yang juga tinggal kenangan.
Untuk urusan perkereta-apian, Ambarawa tentunya sudah sangat terkenal karena di sana terletak Museum Kereta Api. Bahkan masih dilestarikan lori wisata Ambarawa-Jambu, dan Kereta Wisata Ambarawa-Jambu-Bedono. Keistimewaan kereta wisata ini adalah penggeraknya masih menggunakan mesin uap dengan bahan bakar kayu jati, selain itu di jalur Jambu-Bedono yang menanjak, kereta api menggunakan roda tambahan berupa roda bergerigi.

jalur kereta api tua menuju ambarawa melewati rawa pening
ada lori wisata yang mangkrakbagian samping stasiun toentang




                                                                             

stasiun toentang dari kejauhantampak depan stasiun toentangbagian dalam sudah rapi kembali                                     





Menurut Khafid Sirotudin, -saat ini masih- anggota Komisi E DPRD Jawa Tengah (18/04/09), Stasiun Tuntang termasuk bagian dari rehabilitasi jalur kereta api Kedungjati-Bringin-Tuntang-Ambarawa-Jambu-Bedono, yang akan digunakan untuk wisata.
Kapitulasi Tuntang
Kapitulasi Tuntang adalah perjanjian penyerahan kekuasaan di Nusantara atau Indonesia dari pemerintah Hindia-Belanda kepada Pemerintah Britania-Raya pada tahun 1811 di sebuah desa yang bernama Tuntang, sekarang berada dibawah kecamatan Tuntang, kabupaten Semarang.
Tempat ini dipilih karena merupakan tempat peristirahatan para pembesar Hindia-Belanda, terletak di tepi danau Rawa Pening dan mengalir sungai Tuntang yang bermuara ke Laut Jawa di Demak dan terdapat barak-barak tentara.
Waktu itu Belanda sedang diduduki oleh Perancis yang dipimpin oleh kaisar Napoleon Bonaparte.
Isi Perjanjian Tuntang:
  • Pemerintah Belanda menyerahkan Indonesia kepada Inggris di Kaikuta (India)
  • Semua tentara Belanda menjadi tawanan perang Inggris
  • Orang Belanda dapat dipekerjakan dalam pemerintahan Inggris
Kapitulasi Tuntang Membuat Jawa Pernah Dikuasai Inggris
Hari ini 2 abad silam, tepatnya tanggal 18 September 1811, terjadi peristiwa sejarah yang membuat konfigurasi kekuasaan di Eropa mengalami perubahan. Alih-alih terjadi di sebuah wilayah Eropa, peristiwa itu justru terjadi di Jawa. Tepatnya di Desa Tuntang, dekat Salatiga, Jawa Tengah. Peristiwa itu adalah Kapitulasi Tuntang.
Kapitulasi Tuntang merupakan imbas dari keputusan Gubernur Jenderal Jan Willem Janssens yang menyatakan menyerah sebagai akibat kekalahan dalam Perang Napoleon di Jawa. Saat itu Janssens menghadapi serangan yang dilancarkan Inggris pimpinan Jenderal Sir Samuel Auchmuty. Jadi, Kapitulasi Tuntang bisa diartikan sebagai tanda berakhirnya Perang Napoleon di Jawa.
Janssens adalah seorang perwira yang ditugaskan oleh Kaisar Napoleon untuk menggantikan Herman Willem Daendels untuk menjadi gubernur jenderal di Hindia Belanda. Saat itu Hindia Belanda dalam kekuasaan Perancis karena Belanda telah kalah oleh Perancis dalam Perang Napoleon di Eropa. Perang Napoleon melibatkan banyak kerajaan di Eropa. Karena hampir seluruh kerajaan di Eropa memiliki koloni, maka wilayah jajahannya turut kena imbasnya. Tak terkecuali Hindia Belanda. Inggris telah berhasil menduduki wilayah Hindia Belanda lainnya, kecuali Jawa. Jawalah satu-satunya yang masih dimiliki Perancis. Jadi tidak heran jika Kaisar Napoleon bersikeras ingin mempertahan Jawa.
Namun nampaknya harus ada yang disesali Kaisar Napoleon. Janssens bukanlah seorang perwira lapangan yang cakap taktik strategi berperang. Janssens memang pandai dalam urusan logistik, namun bukan dalam hal memimpin pasukan. Dia tidak lebih dari perwira salon, demikian Auchmuty menyebut Janssens.
Akibatnya, tidak banyak yang dilakukan oleh Janssens ketika pasukan Inggris menyerang Batavia pada tanggal 26 Agustus 1811 kecuali mundur ke Bogor. Dari Bogor Janssens dan pasukannya mundur ke Semarang. Di sana Janssens mendapat tambahan pasukan Eropa dari garnisun Semarang dan Surabaya. Ditambah lagi prajurit dari Kraton Surakarta dan Yogyakarta. Legiun Mangkunegara pimpinan Prang Wedana juga diberangkatkan dari Surakarta untuk membantu pihak Perancis-Belanda. Meskipun keadaan geografis di Semarang menguntungkan pihak Perancis-Belanda, namun hal itu tidak membuat pasukan Perancis-Belanda berhasil memukul mundur pasukan Inggris. Yang terjadi justru kebalikannya. Serangan yang bertubi-tubi dan mengejutkan dari pihak Inggris berhasil membuat Janssens memutuskan untuk mundur ke Ungaran.
Di Ungaran terdapat sebuah benteng yang bisa digunakan sebagai tempat perawatan pasukan yang luka-luka, namun belum sempat memulihkan kondisi pasukan dan mengatur siasat, pasukan Inggris telah berhasil menyeberangi jembatan di dekat Benteng Ungaran. Janssens dan beberapa pasukan yang tersisa terpaksa mundur ke Tuntang.
Akhirnya di Tuntang Janssens menyatakan menyerah kepada Jenderal Auchmuty. Dan lahirlah kesepakatan yang dikenal dengan Kapitulasi Tuntang. Kekalahan itu dibayar banyak oleh Perancis-Belanda. Mereka harus kehilangan Jawa. Pasukan Perancis-Belanda menjadi tawanan, sedang pegawai sipilnya bekerja pada pemerintahaan Kerajaan Inggris Raya.
Selanjutnya, untuk menunjukan bahwa Jawa telah dikuasai Inggris, Thomas Stanford Raffles ditunjuk sebagai gubernur jenderal. Hindia Belanda dikembalikan lagi kepada pihak Belanda setelah perang di Eropa usai pada 1816.
E.     Metode Penulisan
Untuk mandapatkan data dan informasi yang diperlukan, kami mempergunakan metode observasi atau teknik wawancara. Tidak hanya itu, kami juga mencari bahan dan sumber-sumber dari media masa elektronik yang berjangkauan internasional, yaitu Internet.

F.     Kritik dan Saran
Para pembaca yang baik hati, penulis menyadari bahwa karya tulis yang kami buat ini masih memiliki banyak kekurangn dan masih jauh dari kata sempurna. Untuk itu kami sebagai penulis menerima dengan senang hati kritik dan saran dari pembaca semua. Segala kritik dan saran yang pembaca berikan adalah tanda bahwa pembaca semua peduli terhadap kami sebagai penulis. Peduli terhadap karya-karya kami. Mambantu kami selaku penulis untuk memperbaiki karya-karya kami, mengetahui kekurangan kami, serta dapat memperbaikinya dalam karya berikutnya. Kami akan berusaha untuk menjadi lebih baik di setiap kesempatan. Kami berharap karya kami yang selanjutnya dapat menjadi lebih baik. Bermanfaat bagi para pembaca serta tidak mengecewakan pembaca. Kritik dan saran yang membangun adalah modal bagi kami untuk mengerahkan segala kemampuan kami untuk menghasilkan karya terbaik kami. Kritik dan saran pembacalah yang membangun kinerja kami untuk menjadi yang lebih baik. Terimakasih atas segala kepedulian pembaca kepada kami serta kami menunggu kritik dan saran pmbaca semua.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar